top of page

They're a techno-pop unit, not an idol. (Rant)


Sejak memboomingnya idol di Jepang, saya jadi teringat akan Perfume. Perfume terlihat seperti idol , tapi sebetulnya bukan. Tapi , banyak juga yang menganggap mereka idol. Bahkan orang Jepang sendiri menganggap mereka idol.

Menurut saya, mereka bukan idol.

Idol dalam arti harafiah, ya. Mereka entertainer yang memang menjadi idola. Bagaimana dengan definisi idol menurut kultur Jepan ? Ya buka , jika dilihat melalui penilaian apa itu 'idol' di masa sekarang. Kalau dinilai dari era-era awal-awal munculnya istilah 'idol' di Jepang, iya.

Kala itu , idol memang sebagai 'label' penyanyi muda belia . Istilah itu muncul , karena film 'Cherchez l'idole' , atau dalam judul Jepang , 'Idol wo Sagase' , yang memunculkan pemeran-pemeran muda dan manis . Namun , seiring berjalannya waktu , idol terkesan seperti sekelompok perempuan belia nan manis yang betul-betul dipromosikan untuk kepentingan komersil . Mereka betul-betul membuat diri mereka dekat dengan masyarakat , dan akhirnya , itu bukan mengenai industri musik dan seni lagi . Idol masa kini menggunakan konsep 'learning by doing' , agar seakan memberi kesan mereka bertumbuh dan berkembang bersama para penggemar . Dan tak lupa , idol masa kini sangat total dalam memberikan fan-service . Dari kontak fisik seperti handshake event, hingga gravure, yang akhirnya menjadikan dunia idol masa kini seakan sebagai indirect prostitution .

Idol sangat menyatu dengan masyarakat , hingga menjadi kultur tersendiri . Mereka akan selalu berinovasi 'to tickle fan's fancy' , dan menyesuaikan dengan 'fantasi' dan fetish para fans .

Singkatnya, idol itu seperti menjual delusi untuk para fans-nya. Mereka sengaja dibuat sejauh mungkin agar eksklusif dan para fans terus mengejarnya. Tujuan utama idol adalah seperti itu, dan akhirnya seakan melenceng jauh pada industri musik dan seni.

Konsep tersebut tidak kita temukan pada Perfume. Walaupun mereka bisa dibilang hanya sekadar 'boneka' yang harus menjalankan tugas karena mulai dari lagu hingga koreografi sudah ada sendiri yang atur. Walau mereka 'boneka'-pun, apa yang mereka bawakan tetap konsisten dengan industri yang sedang mereka jalani. Mereka tetap menganggap musiklah yang utama. Terlihat dari progresi mereka dalam musik yang semakin berkembang dan kreatif. Tidak seperti idol yang kolot, yang hanya menjalankan apa yang biasa mereka jalankan hanya karena semerta-merta itu sudah menjadi ciri khas. Ditambah lagi mereka juga unggul dalam artistry visualnya yang bertema futuristik, video-mapping yang inovatif, dan koreografi yang quirky. Bila idol dikenal oleh masyarakat karena fanservice menjual delusi-nya, Perfume dikenal dengan fanservice-nya yang berbentuk konsep visual mereka sendiri yang lama-kelamaan menjadi identitas sendiri bagi Perfume. Untuk musiknya sendiri, mereka bisa dibilang sebagai pionir techno-pop unit. Mereka mempunyai image yang bagus dan sejalan dengan industri yang mereka jalani, dalam aspek musik dan seni. Tidak melenceng seperti idol.

Perfume memang sempat berkonsep sebagai idol kebanyakan , sewaktu mereka berumur belasan tahun dan mulai merintis karir (era single 'Omajinai Perori' , 'Kareshii Boshuu-chuu' , sekitar tahun 2000). Setelah diproduseri oleh Nakata Yasutaka , mereka mulai berubah konsep menjadi techno-pop unit yang mulai mengedepankan artistry dan juga musiknya.

Bisa dibilang idol kini sudah menjadi substitute dari industri musik. Mereka sudah berdiri sendiri, dengan budaya tersendiri. Agak susah bila digambarkan sejalan dengan industri musik umumnya. Namun, bisa dikatakan bila Perfume masih ada dalam ranah industri musik normalnya.

Recent Posts
Search By Tags
No tags yet.
bottom of page